Kehidupan Anak Kecil di Mata Ibu Tiri

Adanya mitos ibu tiri yang jahat memang seringkali menakutkan bagi anak sehingga ia juga berusaha membentengi dirinya dan menjaga jarak terhadap pasangan baru orangtuanya. Berbeda dengan ibu tiri, ayah tiri jarang memperoleh stigma sebagai ‘ayah tiri jahat’, karena mereka cenderung menghabiskan waktu yang lebih sedikit dengan anak-anak dibandingkan ibu tiri. masalah yang dialami antara ayah tiri-anak cenderung lebih sedikit dibandingkan masalah anak dengan ibu tirinya.

Munculnya citra negatif ibu tiri jahat tidak terlepas dari banyaknya dongeng yang menceritakan penderitaan seorang anak ketika ia terpaksa harus tinggal bersama orangtua tiri dan saudara-saudara tiri yang membencinya. Hal ini menyebabkan munculnya stereotype di masyarakat bahwa munculnya orang baru, terutama orangtua tiri dalam keluarga dapat menjadi suatu hal yang mengerikan dalam kehidupan seorang anak. Di mata anak ibu tiri adalah orang yang jahat dan menakutkan. Sehingga jika ada mama baru sulit mereka akan membentengi diri dan butuh waktu yang tidak cepat untuk menerimanya. Perubahan yang terjadi ketika orangtua menikah lagi memang akan mempengaruhi kondisi psikologis anak secara keseluruhan.

Seringkali anak terlibat masalah, mulai dari mogok sekolah, melakukan kenakalan, mengurung diri, hingga kabur dari rumah. Ada suatu karakteristik keluarga tiri yang harus dipahami oleh orangtua tunggal yang ingin menikah lagi, yaitu bahwa hubungan orangtua kandung-anak memiliki sejarah yang lebih panjang dan ikatan yang lebih kuat dibandingkan hubungan orangtua tiri-anak. Hal ini menjadi tantangan tersendiri karena seringkali orangtua tiri dianggap sebagai penyusup atau orang luar yang masuk ke dalam keluarganya. Akibatnya, anak akan berusaha membentengi dirinya terhadap orangtua atau saudara tirinya. Sebagian anak di keluarga tiri memiliki ikatan dengan dua rumah tangga dengan dua peraturan yang berbeda. Hasilnya, struktur hubungan dalam keluarga tiri menjadi lebih kompleks dibanding keluarga kandung.