Empat Infeksi Kulit Yang Sering Pada Anak

infeksi Kulit pada AnakHampir semua anak pernah mengalami gangguan kulit, dari sekedar bentol hingga alergi kulit yang parah. Dan hampir semua anak pernah mengalami infeksi kulit akibat kuman, dari bisul hingga kutil. Kapan anda waspadai dan perlukah ke dokter?

Infeksi adalah masuknya kuman yang menyebabkan gangguan pada tubuh kita. Karena adanya kuman, tentunya infeksi merupakan penyakit yang bisa berpindah alias menular. Anak-anak dengan ciri khasnya bermain dan berinteraksi termasuk kelompok yang rentan tertular meski sebesar apapun usaha anda menjaganya.
Untungnya, sebagian besar infeksi kulit tak berbahaya. Jadi, anda tak perlu melarangnya bermain hanya karena takut terkena infeksi kulit.

Inilah empat infeksi kulit yang sering mengenai anak :
1.Molluscum Contagiosum
Berdasarkan istilah kedokteran, kutil berkelompok berbentuk seperti mutiara tersebut dinamakan molluscum contagiosum, dan sesuai namanya bersifat contagious atau menular. Penyakit kulit ini merupakan infeksi kulit yang umum terjadi, disebabkan human poxvirus dan paling banyak mengenai anak-anak usia 2 sampai 5 tahun, namun orang dewasa pun bisa terkena atau menjadi sumber penularan. Biasanya, kuman menular langsung karena bersentuhan dengan kutil atau kontak dengan anak yang sedang terinfeksi kuman tersebut misalnya saat mandi atau berenang bersama.
Meskipun secara penampakan memang amat mengganggu, infeksi kulit ini ringan dan dapat sembuh dengan sendirinya. Pada anak yang sehat, kutil dapat bertahan selama 6 hingga 8 minggu yang kemudian perlahan menghilang tanpa bekas. Tetapi karena molluscum dapat menulari kulit sekitarnya, bisa jadi membutuhkan sekitar 8 bulan untuk sembuh sempurna. Belum lagi, kebiasaan mengorek-ngoreknya membuat kutil molluscum ini terinfeksi kuman lain sehingga bernanah dan menimbulkan bekas. Biasanya, sang ibu tak tahan melihat kulit anaknya berbintil-bintil sehingga pengobatan dari dokter pun menjadi pilihan. Beberapa terapi seperti ekstrasi ataupun pembakaran kutil dengan zat kimia dapat dilakukan untuk mengangkat kutil namun bisa menimbulkan nyeri saat terapi dan beberapa penelitian mengatakan hasilnya sama saja dengan sekedar pengamatan. Selain itu, dokter bisa memberi salep bersifat asam yang dapat mengikis kutil atau salep pencegah penyebaran kutil sehingga lebih cepat sembuh tanpa bekas. Meskipun banyak alternatif pengobatan, para ahli tetap menyarankan menunggu hingga sembuh karena sebenarnya penyakit ini dapat hilang dengan sendirinya.

2.Kutil Virus (Viral Warts)
Kutil memang tak asing lagi dan pada suatu masa dalam kehidupan, seseorang bisa jadi pernah terkena kutil ini. Bentuk kutilnya bisa bermacam-macam dan dapat mengenai kulit ataupun telapak tangan dan kaki. Secara definisi kedokteran, viral warts adalah pertumbuhan berlebih lapisan luar (epitel) kulit yang jinak dan disebabkan kuman human papillomavirus. Virus ini seperti kuman lainnya dapat berpindah alias menular dan bersifat sembuh sendiri. namun, sayangnya pada beberapa orang, jenis kutil ini bisa bertahan lama dan bahkan bertambah banyak atau besar sehingga pengobatan diperlukan. Kutil ini mulai muncul pada usia anak, meningkat pada saat remaja, dan menghilang sendiri selamanya. Sebelum kutil menghilang, biasanya akan muncul jaring-jaring kehitaman di area kutil akibat kematian kapiler darah.
Biasanya kutil akan hilang sendiri dalam waktu dua tahun. Namun, orang tua kerap tak sabar sehingga akhirnya mereka akan pergi ke dokter atau mencoba menghilangkannya sendiri. Menghilangkan kutil bisa dilakukan dengan salep asam salisilat yang merupakan pilihan pengobatan kutil, terapi beku (krioterapi) dengan efek samping nyeri dan meninggalkan bekas, ataupun dengan larutan silver nitrat dan glutaraldehid.

3.Impetigo
Impetigo adalah infeksi permukaan kulit dengan ciri adanya kerak berwarna keemasan. Infeksi ini menuruti urutan ketiga penyakit kulit tersering pada anak setelah eksim dan kutil. Paling sering menyerang usia 2-6 tahun. Menular lewat kontak langsung, misalnya dengan memegang keraknya. Kuman ini juga bisa bersarang di daerah lubang hidung sehingga menimbulkan kekambuhan. Selain itu, anak yang eksim juga sering terkena.
Impetigo memiliki dua karakteristik. Ada yang diawali dengan lenting atau bisul yang kemudian pecah membentuk kerak kuning keemasan. Biasanya jenis ini tak disertai demam, sering mengenai daerah muka dan anggota badan, serta bisa menular kesekitarnya. Bentuk kedua dicirikan dengan gambaran gelembung seperti tetesan embun di kulit berisi cairan, atau gelembung besar seperti luka bakar. Impetigo ini disertai gejala sistemik seperti demam atau tak enak badan, nyeri, dan cepat menyebar. Sering terdapat pada daerah mulut dan hidung atau berkelompok di lipatan tubuh.
Impetigo haruslah diobati untuk menghilangkan bakteri penyebabnya. Dokter akan meresepkan antibiotika yang disesuaikan dengan kondisi anak. Ada dua jenis antibiotika yaitu yang diminum atau dioleskan tergantung dari luasnya infeksi. Terkadang pada yang berat, antibiotika bisa diberikan dengan cara keduanya.

4.Jamur Kepala
Ternyata, selain ketombe ataupun eksim, kepala pun bisa terserang jamur. Bentuknya bermacam-macam tetapi tak akan sembuh dengan shampo anti ketombe, bahkan bertambah banyak bila diobati salep untuk eksim. Ada yang memang menyerupai ketombe tanpa gambaran pitak yang jelas, ada pula botak setempat dengan ujung rambut yang patah-patah atau kulit di area tersebut kasar dan tak sehat. Jamur kepala perlu dicurigai bila ada kebotakan dengan kulit kepala mengelupas atau berkerak.
Dokter akan memastikan penyebab kebotakan pada anak ini dengan mengambil spesimen rambut atau kerak dan akan memberikan obat antijamur yang sesuai. Jamur di kepala memang sulit hilang sendiri tanpa bantuan obat.

Empat Infeksi Kulit Yang Sering Pada Anak | dr. Dyah Mahesanty Indrawati | 4.5